Penyebab Beras Patah saat Digiling dan Cara Mengatasinya post thumbnail image

Beras patah sering menjadi keluhan saat proses penggilingan karena ukuran butir utuh berkurang dan nilai jual hasil akhir bisa ikut berubah. Kerusakan ini tidak selalu berasal dari mesin yang bermasalah. Sebagian gabah mungkin sudah memiliki retakan sebelum digiling, sementara cara pengeringan, penyimpanan, dan pengaturan mesin dapat memperbesar risiko patah ketika bulir melewati tahap pengolahan.

Untuk mengetahui penyebabnya, pengelola penggilingan perlu memeriksa kondisi bahan sejak diterima hingga menjadi beras putih. Perubahan kecil pada kadar air atau tekanan mesin dapat memberi dampak berbeda bergantung pada varietas dan kondisi gabah. Karena itu, pemeriksaan bertahap lebih berguna daripada langsung menyalahkan satu alat atau mengganti semua pengaturan sekaligus.

Penyebab Beras Patah saat Digiling

1. Kadar Air Gabah Tidak Sesuai

Gabah yang terlalu kering cenderung lebih rapuh ketika menerima tekanan mekanis, sedangkan gabah yang belum cukup kering dapat menyulitkan proses pengupasan dan menghasilkan mutu yang tidak konsisten. Gunakan alat pengukur kadar air dan periksa beberapa titik dari tumpukan, bukan hanya mengambil satu sampel di permukaan. Kadar yang sesuai untuk penggilingan dapat berbeda menurut varietas dan proses pengeringan, jadi ikuti standar operasional yang digunakan oleh penggilingan.

2. Pengeringan Berlangsung Terlalu Cepat

Pengeringan dengan panas tinggi atau perubahan kondisi yang mendadak dapat menciptakan perbedaan kadar air antara bagian luar dan bagian dalam bulir. Ketegangan tersebut berpotensi membentuk retakan kecil yang belum terlihat oleh mata. Saat gabah masuk mesin, retakan dapat berkembang sehingga beras terbelah menjadi beberapa bagian. Sebarkan gabah dengan merata, balik secara berkala ketika dijemur, dan hindari penumpukan tebal yang membuat pengeringan tidak seragam.

3. Gabah Mengalami Perubahan Kelembapan saat Disimpan

Gabah yang sudah kering bisa menyerap kelembapan kembali jika terkena udara lembap atau disimpan di tempat yang tidak terlindungi. Perubahan kadar air berulang dapat melemahkan struktur bulir, sehingga pecah saat terkena gesekan atau tekanan. Simpan gabah di ruang bersih dan kering, gunakan alas agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai, serta lindungi tumpukan dari hujan dan rembesan air.

4. Setelan Mesin Terlalu Kuat

Tekanan pengupasan atau penyosohan yang berlebihan dapat meningkatkan gaya yang diterima bulir. Kondisi ini perlu diperiksa bila jumlah beras patah naik tiba-tiba setelah mesin disetel ulang, komponen diganti, atau kapasitas masukan ditingkatkan. Sesuaikan setelan mengikuti petunjuk pabrikan dan karakter gabah, lalu lakukan uji coba dengan jumlah kecil sebelum memproses satu batch penuh.

5. Komponen Mesin Aus atau Tidak Terawat

Rol karet, saringan, dan bagian bergerak yang aus dapat membuat proses pengupasan atau pemisahan kurang stabil. Tumpukan sekam dan dedak yang menempel juga bisa menghambat aliran bahan, sehingga operator terdorong memberi tekanan atau memasukkan gabah berlebihan. Bersihkan mesin sesuai jadwal dan periksa kondisi komponen sebelum mulai bekerja. Matikan sumber tenaga terlebih dahulu sebelum membuka atau membersihkan bagian yang bergerak.

6. Tahapan Penggilingan Kurang Tepat

Gabah yang tidak dibersihkan dan dipisahkan dengan baik dapat membuat proses berikutnya kurang efisien. Pengupasan berulang atau penyosohan terlalu agresif juga dapat menambah pecahan, terutama jika operator mengejar warna putih tanpa memperhatikan kondisi beras. Periksa sampel setelah pengupasan dan setelah penyosohan untuk menemukan tahap ketika jumlah pecahan meningkat. Catatan sederhana membantu operator membandingkan hasil antarbatches dan memilih perbaikan yang sesuai.

Untuk memahami hubungan mutu proses dengan hasil produksi, baca juga panduan cara meningkatkan rendemen beras. Informasi tersebut dapat membantu pengelola mengevaluasi penanganan gabah, pengoperasian mesin, dan cara menjaga hasil giling.

Kesimpulan

Penyebab beras patah saat digiling dapat berasal dari kadar air, pengeringan yang tidak merata, penyimpanan lembap, setelan mesin, komponen aus, atau tahapan pengolahan yang kurang tepat. Periksa bahan dan hasil pada setiap tahap agar sumber kerusakan lebih mudah ditemukan. Dengan penanganan gabah yang cermat, penggunaan mesin sesuai petunjuk, serta pencatatan hasil secara rutin, jumlah beras patah dapat dikendalikan tanpa mengubah proses secara sembarangan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post